Skip to main content

Squalane: Kandungan Pelembap Mirip Minyak Alami Kulit yang Lagi Naik Daun, Ini Cara Kerja dan Rekomendasinya

Kalau kamu sering scroll TikTok atau Instagram skincare, pasti udah sering lihat kata "squalane" nempel di label serum atau face oil — mulai dari brand luar sampai brand lokal Indonesia. Bedanya sama hyaluronic acid atau niacinamide yang udah kita bahas sebelumnya, squalane ini kerjanya bukan nambah kandungan baru ke kulit, tapi lebih ke "ngisi ulang" sesuatu yang udah ada di kulit kita sejak lahir tapi makin berkurang seiring usia dan paparan lingkungan. Yang bikin squalane menarik buat dibahas secara analitis: kandungan ini diklaim cocok untuk HAMPIR semua jenis kulit, termasuk kulit berminyak dan acne-prone — klaim yang biasanya bikin skeptis karena "minyak buat kulit berminyak" kedengarannya kontradiktif. Jadi di artikel ini kita bongkar fakta di balik klaim itu: apa sebenarnya squalane, kenapa teksturnya beda dari minyak pada umumnya, cara pakai yang tepat, dan produk lokal + internasional yang beneran worth it dari segi kandungan vs harga. Pentin...

PHA (Polyhydroxy Acid): Eksfoliasi Lembut untuk Kulit Sensitif yang Lagi Naik Daun, Ini Cara Kerja dan Rekomendasinya

Kalau kamu pernah dengar AHA dan BHA bikin kulit perih atau mengelupas, tapi tetap pengin eksfoliasi biar kulit halus dan cerah, ada satu golongan asam eksfoliasi yang belakangan makin sering muncul di ingredient list produk lokal maupun Korea: PHA, alias Polyhydroxy Acid. Banyak brand menyebutnya "generasi baru" dari AHA karena cara kerjanya mirip tapi jauh lebih ramah untuk kulit sensitif.

Menariknya, PHA bukan barang baru dari sisi ilmu kimia — molekul seperti gluconolactone dan lactobionic acid sudah dipakai di dunia dermatologi sejak lama untuk pasien dengan kulit rosacea dan eksim. Tapi baru beberapa tahun terakhir PHA masuk deras ke rak skincare Indonesia, muncul di toner Somethinc, serum peeling Avoskin, sampai produk lokal lain yang menyasar konsumen dengan kulit reaktif atau baru belajar eksfoliasi.

Di artikel ini kita bakal bahas tuntas: apa sebenarnya PHA, kenapa ia diklaim lebih lembut dibanding AHA/BHA, cara pakai yang benar biar hasilnya maksimal tanpa bikin barrier rusak, sampai rekomendasi produk yang beredar di Shopee dan Tokopedia lengkap dengan perbandingan harga dan konsentrasinya.

Apa itu PHA (Polyhydroxy Acid)?

PHA adalah golongan asam eksfoliasi kimia, satu keluarga besar dengan AHA (Alpha Hydroxy Acid) dan BHA (Beta Hydroxy Acid), tapi dengan struktur molekul yang jauh lebih besar. Dua jenis PHA yang paling umum ditemukan di skincare adalah gluconolactone dan lactobionic acid.

Untuk memahami kenapa PHA lebih "lembut", kita perlu bandingkan ukuran molekulnya. Glycolic acid — AHA yang paling kecil dan paling kuat penetrasinya — punya berat molekul sekitar 76 Dalton. Sementara gluconolactone dan lactobionic acid punya berat molekul sekitar 358 Dalton, hampir lima kali lebih besar. Molekul yang lebih besar ini artinya PHA tidak bisa menembus terlalu dalam dan terlalu cepat ke lapisan kulit, sehingga proses eksfoliasinya jadi lebih bertahap dan minim iritasi.

Secara mekanisme, cara kerja PHA sebenarnya sama seperti AHA: melemahkan ikatan kimia (calcium bridges) yang merekatkan sel-sel kulit mati di lapisan terluar (stratum corneum). Begitu ikatan ini melemah, sel kulit mati jadi lebih mudah terangkat dan digantikan sel kulit baru yang lebih segar. Hasilnya: tekstur kulit lebih halus, warna kulit lebih merata, dan tampilan pori-pori mengecil secara bertahap.

Yang membuat PHA istimewa dibanding AHA/BHA lain adalah sifat humektannya. Karena strukturnya punya banyak gugus hidroksil (multiple hydroxyl groups), PHA juga bisa mengikat air dan membantu menghidrasi kulit sambil bekerja mengeksfoliasi — sesuatu yang jarang ditemukan pada AHA/BHA konvensional yang justru cenderung membuat kulit kering kalau dipakai berlebihan. PHA juga punya sifat antioksidan ringan yang membantu melindungi kulit dari radikal bebas.

Karena karakter inilah PHA sering direkomendasikan sebagai "pintu masuk" eksfoliasi kimia buat pemula, atau sebagai pilihan aman untuk kulit sensitif, rosacea, eksim, dan kulit yang sedang dalam proses pemulihan skin barrier — kondisi yang biasanya tidak tahan dengan AHA/BHA konsentrasi tinggi.

Cara Pakai yang Benar

Meski diklaim lembut, PHA tetaplah asam eksfoliasi aktif — bukan berarti bisa dipakai sembarangan tanpa aturan. Berikut panduan pemakaian yang aman:

  • Mulai dari frekuensi rendah. Untuk pemula, pakai 2-3 kali seminggu dulu di malam hari. Kalau kulit toleran (tidak merah, tidak perih, tidak mengelupas berlebihan), baru naikkan bertahap sampai maksimal pemakaian harian sesuai instruksi produk.
  • Urutan pemakaian. Setelah cuci muka dan sebelum pelembap: cleanser → toner PHA (atau serum PHA) → serum lanjutan (opsional) → moisturizer → (pagi hari) sunscreen. Kalau bentuknya peeling solution atau serum konsentrasi tinggi, biasanya cukup dipakai malam hari saja.
  • Wajib pakai sunscreen di pagi hari. Semua golongan hydroxy acid, termasuk PHA, meningkatkan sensitivitas kulit terhadap sinar UV meski levelnya lebih rendah dibanding AHA/BHA. SPF 30 ke atas dengan reapply adalah keharusan, bukan opsional.
  • Kombinasi aman: PHA cukup fleksibel dikombinasikan dengan niacinamide, ceramide, centella asiatica, dan hyaluronic acid — bahkan produk PHA sering diformulasikan bareng bahan-bahan ini untuk efek menenangkan sekaligus melembapkan.
  • Kombinasi yang perlu hati-hati: Meski lebih lembut, tetap hindari menumpuk PHA dengan retinol/retinoid dosis tinggi atau AHA/BHA konsentrasi tinggi di rutinitas yang sama — bisa memicu over-eksfoliasi meski risikonya lebih rendah dibanding kombinasi retinol+AHA/BHA murni. Kalau kamu ingin pakai retinol, sebaiknya di malam yang berbeda dengan PHA, atau pakai di waktu yang berjauhan (misal PHA pagi jarang, retinol malam).
  • Patch test dulu. Walau PHA jauh lebih toleran, tetap oleskan sedikit di area rahang atau belakang telinga selama 1-2 hari sebelum pemakaian penuh, terutama kalau kulitmu punya riwayat sangat reaktif seperti rosacea aktif atau dermatitis.
  • Hindari area kulit yang sedang luka aktif atau jerawat pecah. Fokuskan pemakaian di area wajah yang sehat, hindari kontak langsung dengan luka terbuka.

Rekomendasi Produk

1. Somethinc Calm Down! PHA 3% Soothing Everyday Toner

Toner dengan 3% PHA (gluconolactone) yang diformulasikan khusus untuk kulit sensitif, acne-prone, kering, dan yang mudah kemerahan. Diklaim hypoallergenic dan sudah teruji dermatologis, cocok dipakai sebagai "everyday toner" karena konsentrasinya rendah dan teksturnya menenangkan. Mengandung Centella Asiatica dan bahan calming lain untuk membantu memperkuat skin barrier sekaligus mengeksfoliasi.

Beli di: Shopee | Tokopedia

2. Somethinc Skinglow AHA BHA PHA Exfoliating Toner (Glow Maker)

Kombinasi tiga jenis asam eksfoliasi sekaligus — AHA, BHA, dan PHA — dalam satu toner. Cocok untuk kamu yang sudah terbiasa dengan eksfoliasi ringan dan ingin hasil lebih menyeluruh: mengangkat komedo, menghaluskan tekstur, sekaligus membuat kulit tampak lebih cerah. Karena mengandung AHA/BHA juga, disarankan mulai dari 2 kali seminggu untuk pemula meski ada kandungan PHA yang menyeimbangkan.

Beli di: Shopee | Tokopedia

3. Somethinc Advanced Peeling 20% AHA BHA PHA LHA Serum

Serum peeling konsentrasi lebih tinggi yang menggabungkan AHA, BHA, PHA, dan LHA sekaligus Kojic Acid untuk mencerahkan. Ditujukan untuk pengguna yang sudah punya "toleransi" terhadap asam eksfoliasi dan ingin hasil lebih signifikan pada komedo, pori-pori besar, dan hiperpigmentasi. Karena konsentrasinya tinggi, sebaiknya tidak dipakai setiap hari — mulai dari 1-2 kali seminggu di malam hari.

Beli di: Shopee | Tokopedia

4. Avoskin Miraculous Refining Toner (AHA BHA PHA PGA)

Toner eksfoliasi lokal yang memadukan AHA-BHA-PHA-PGA dengan niacinamide, tea tree 2%, witch hazel, dan aloe vera. Diformulasikan untuk memaksimalkan eksfoliasi sekaligus menjaga kelembapan, membantu menyamarkan noda hitam dan pori-pori besar. Kombinasi tea tree membuatnya juga cukup relevan untuk kulit berminyak dan berjerawat.

Beli di: Shopee | Tokopedia

5. Mineral Botanica Xpoli Peeling Solution

Peeling solution hybrid yang menggabungkan eksfoliasi enzimatik (papain) dengan eksfoliasi kimia (AHA + PHA/gluconolactone 5% + BHA/LHA), ditambah fermented honey dan centella. Diposisikan sebagai produk yang "cocok untuk kulit sensitif dan pemula eksfoliasi" karena kombinasi enzim yang lebih lembut dibanding asam murni, dengan harga yang cukup terjangkau.

Beli di: Shopee | Tokopedia

6. Benton PHA Peeling Toner

Produk asal Korea Selatan dari brand yang memang punya spesialisasi di kulit sensitif. Fokus murni pada PHA tanpa campuran AHA/BHA konsentrasi tinggi, sehingga jadi pilihan yang lebih "aman" untuk kulit yang benar-benar reaktif atau baru pertama kali mencoba eksfoliasi kimia. Teksturnya ringan dan biasanya diformulasikan minim fragrance.

Beli di: Shopee | Tokopedia

Perbandingan Produk

Produk Kandungan Utama Cocok Untuk Frekuensi Disarankan Kisaran Harga
Somethinc Calm Down! PHA 3% 3% PHA (Gluconolactone) Kulit sensitif, acne-prone, kering Setiap hari (malam) Rp80.000 - 130.000
Somethinc Skinglow AHA BHA PHA AHA + BHA + PHA Kulit normal-kombinasi, sudah terbiasa eksfoliasi 2-3x/minggu Rp140.000 - 160.000
Somethinc Advanced Peeling 20% AHA + BHA + PHA + LHA + Kojic Acid Kulit sudah toleran, komedo & hiperpigmentasi 1-2x/minggu Rp135.000 - 150.000
Avoskin Miraculous Refining Toner AHA + BHA + PHA + PGA + Niacinamide Kulit berminyak-kombinasi, noda hitam & pori besar 2-3x/minggu Rp150.000 - 180.000
Mineral Botanica Xpoli Peeling Solution Papain + AHA + PHA 5% + LHA + Centella Pemula eksfoliasi, kulit sensitif 2x/minggu Rp70.000 - 90.000
Benton PHA Peeling Toner PHA murni (tanpa campuran AHA/BHA tinggi) Kulit sangat sensitif, rosacea, pemula total Setiap hari - 3x/minggu Rp180.000 - 250.000

FAQ

Apakah PHA aman dipakai setiap hari?

Untuk produk dengan konsentrasi rendah (di bawah 5%) seperti toner everyday, sebagian besar formula memang dirancang untuk pemakaian harian. Tapi tetap perhatikan respons kulitmu — kalau muncul kemerahan atau perih, turunkan frekuensinya.

Apa beda PHA dengan AHA dan BHA?

Ketiganya sama-sama asam eksfoliasi kimia, tapi berbeda di ukuran molekul dan kedalaman kerja. AHA (misal glycolic acid) larut air, bekerja di permukaan kulit, cocok untuk kulit kering/kusam tapi bisa iritatif pada kulit sensitif. BHA (salicylic acid) larut minyak, bisa masuk ke dalam pori, cocok untuk kulit berminyak dan berjerawat. PHA punya molekul terbesar, bekerja paling di permukaan dan paling lambat sehingga paling minim iritasi, sekaligus punya sifat humektan (melembapkan) yang tidak dimiliki AHA/BHA.

Bolehkah PHA dipakai bareng niacinamide atau vitamin C?

Boleh. PHA relatif fleksibel dikombinasikan dengan niacinamide dan turunan vitamin C yang stabil. Bahkan banyak produk PHA sudah diformulasikan bersama niacinamide untuk efek mencerahkan dan menenangkan sekaligus.

Apakah PHA bisa menggantikan AHA/BHA sepenuhnya?

Tergantung kebutuhan kulitmu. Kalau kulitmu memang sensitif, rosacea, atau baru belajar eksfoliasi, PHA bisa jadi pengganti yang lebih nyaman. Tapi untuk masalah kulit yang lebih spesifik dan berat seperti jerawat aktif parah atau hiperpigmentasi dalam, AHA/BHA konsentrasi tepat mungkin masih dibutuhkan — bisa dikombinasikan bertahap dengan pengawasan reaksi kulit.

Apakah PHA menyebabkan purging?

Karena sifatnya yang gentle dan bekerja di permukaan kulit, PHA jarang memicu purging dibanding retinoid atau AHA/BHA konsentrasi tinggi. Kalau muncul breakout setelah pakai PHA, kemungkinan besar itu reaksi iritasi (bukan purging), tandanya frekuensi pemakaian perlu diturunkan atau dihentikan sementara.

Apakah semua kulit cocok pakai PHA?

Sebagian besar jenis kulit termasuk sensitif bisa mencoba PHA, tapi tetap disarankan patch test dulu terutama kalau kamu punya riwayat dermatitis kontak, rosacea aktif, atau alergi bahan tertentu dalam formula.

PHA memang layak dilirik sebagai pilihan eksfoliasi yang lebih ramah, terutama buat kamu yang kulitnya gampang bereaksi terhadap AHA/BHA konvensional. Tapi ingat, "lembut" bukan berarti "bebas risiko" — tetap perlu disiplin pakai sunscreen, mulai dari frekuensi rendah, dan mendengarkan respons kulit sendiri sebelum menaikkan intensitas pemakaian.

Tulisan ini bersifat riset & informasi umum, bukan saran medis. Konsultasikan ke dokter kulit untuk kebutuhan spesifik kulitmu.

Comments

Popular posts from this blog

Azelaic Acid: Kandungan Skincare yang Lagi Naik Daun untuk Jerawat, Kemerahan, dan Bekas Jerawat

Kalau kamu sering scroll TikTok atau Shopee Live seputar skincare, mungkin kamu udah nggak asing lagi sama niacinamide, salicylic acid, atau retinol. Tapi ada satu kandungan yang belakangan makin sering muncul di rak skincare lokal maupun luar, meski namanya masih kalah populer: azelaic acid. Kandungan ini bahkan sering "disamarkan" dengan nama turunannya seperti Potassium Azeloyl Diglycinate atau Azeclair di beberapa produk lokal, jadi banyak yang sebenarnya sudah pakai tanpa sadar. Azelaic acid ini menarik karena klaimnya lumayan "serba bisa" — bisa membantu jerawat, bisa mencerahkan bekas jerawat (PIH), bisa meredakan kemerahan, bahkan dipakai di dunia medis untuk rosacea. Buat kamu yang kulitnya sensitif dan sering "nggak cocok" sama BHA atau retinol karena perih dan mengelupas, azelaic acid sering direkomendasikan sebagai alternatif yang lebih ramah. Tapi seberapa jauh klaim ini didukung riset, dan gimana cara pakainya yang benar supaya nggak salah ...

Retinol untuk Pemula: Kandungan Anti-Aging Lagi Ngetren di Skincare Lokal, Ini Cara Pakai yang Benar Biar Nggak Purging Parah

Kalau kamu scroll TikTok atau Instagram beauty content creator Indonesia belakangan ini, pasti sering lihat kata "retinol" muncul terus. Mulai dari klaim bisa menyamarkan garis halus, mengecilkan pori, sampai bikin kulit lebih kenyal dan glowing. Nggak heran, brand lokal seperti Somethinc, Skintific, Avoskin, sampai Wardah berlomba-lomba merilis serum retinol dengan harga yang jauh lebih terjangkau dibanding produk luar negeri. Tapi di balik hype-nya, retinol termasuk kandungan aktif yang paling sering salah dipakai. Banyak pemula yang kulitnya jadi merah, perih, mengelupas parah, bahkan "purging" berkepanjangan karena terlalu semangat pakai retinol setiap malam sejak hari pertama. Padahal kalau dipakai dengan cara yang benar, retinol justru salah satu kandungan paling well-researched di dunia skincare dengan bukti klinis paling kuat untuk anti-aging. Di artikel ini kita bakal bahas tuntas: apa sebenarnya retinol itu, gimana cara kerjanya di kulit, cara pakai ya...

Ceramide untuk Skin Barrier Rusak: Kandungan yang Lagi Dicari Kulit Kering dan Sensitif

Kalau belakangan ini kamu sering lihat kata "ceramide" nempel di kemasan moisturizer, serum, bahkan sabun cuci muka — itu bukan kebetulan. Ceramide lagi jadi salah satu kandungan yang paling banyak dicari orang Indonesia yang berjuang sama skin barrier rusak, kulit kering mengelupas, atau iritasi gara-gara over-exfoliating. Brand lokal kayak Skintific, Somethinc, sampai The Originote pun ramai-ramai keluarin varian "barrier repair" berbasis ceramide. Bedanya sama kandungan aktif lain kayak niacinamide atau salicylic acid, ceramide ini kerjanya bukan "menyerang" masalah kulit, tapi lebih ke "membangun ulang" struktur kulit dari dalam. Makanya banyak dermatolog nyaranin ceramide sebagai kandungan wajib buat siapa aja yang kulitnya lagi sensitif, kering, atau baru selesai treatment agresif kayak retinol, chemical peeling, atau laser. Di artikel ini kita bakal bahas tuntas: apa sebenarnya ceramide, gimana cara kerjanya secara ilmiah, cara pakai y...